Tips Menjadi Pemimpin Bisnis yang Sukses

Dalam suatu kelompok, golongan, perusahaan, dan juga bisnis, tentu harus ada pemimpin yang bisa mengatur anggotanya agar bisa bekerjasama dan mewujudkan tujuan bersama. Pemimpin adalah orang yang paling bertanggungjawab, memikul amanah yang paling besar, dan berkewajiban dalam mengelola arah kelompok agar bisa selalu sejalan dalam menuju tujuan yang telah ditetapkan.

Untuk suatu bisnis, pemimpin harus bisa mengelola kelompoknya agar bisa mewjudukan tujuan bisnis, sehingga bisa memperoleh keuntungan yang besar mencapai atau bahkan melebihi apa yang sudah ditargetkan. Oleh karena itu, seorang leader harus bisa mengoptimalkan seluruh sumber daya manusia yang menjadi bagiannya.

Tips dalam Menjadi Pemimpin Bisnis yang Sukses

Berikut ini terdapat beberapa tips yang bisa Anda lakukan untuk menjadi pemimpin bisnis yang sukses:

  1. Menjalin Kerjasama dengan Tim

Seorang leader tidak bisa berhasil apabila kerjasama timnya tidak berjalan dengan lancar. Untuk mencapai tujuannya, sang leader harus bisa menjalin kerjasama dengan seluruh tim, serta menjalin kerjasama antar anggota timnya.

Tim merupakan satu bagian sebagaimana suatu mesin yang terdiri atas komponen-komponennya. Jika masing-masing memiliki fungsi yang baik, akan tetapi tidak dapat disatukan untuk menjalin kerjasama, maka mesin tidak akan bisa beroperasi dengan sempurna. Begitu pula sebuah tim, apabila komponen tim tidak dapat menjalin kerjasama, maka komponen yang lain akan mengalami masalah dan tidak bisa berjalan dengan lancar.

  1. Memberikan Kepercayana yang Penuh kepada Tim

Dalam suatu tim, antara pemimpin dengan tim, dan antar anggota tim, harus terjalin kepercayaan yang kuat. Masing-masing komponen harus saling mempercayai, sehingga semua tugas dapat terlaksana dengan lancar tanpa adanya suatu kendala.

Seorang pemimpin, tidak bisa jika terus mengawal, mendampingi, dan mengawasi anggotanya terus menerus. Pemimpin juga harus bisa mengatur bagian tim yang lain, sehingga semuanya bisa berjalan dengan baik. Hal ini tidak dapat terwujud apabila tidak ada kepercayaan dalam tim.

  1. Memahami Bahwa Tidak Ada Manusia yang Sempurna

Memahami bahwa tidak ada manusia yang sempurna sangat penting bagi seorang pemimpin, terlebih lagi bagi yang bersifat perfeksionis. Anda harus memahami bahwa anggota tim Anda juga manusia biasa, sehingga sangat wajar apabila tidak bisa selalu memberikan performa terbaiknya. Dengan memahami hal ini, berbagai permasalahan yang ada di dalam tim dapat terselesaikan dengan baik tanpa adanya masalah lainnya.

  1. Belajar dari Segala Hal

Segala hal yang terjadi dalam tim Anda harus bisa Anda jadikan sebagai pelajaran yang berharga. Dengan demikian, Anda akan bisa mendapatkan ilmu yang baru dan menjadi pemimpin yang lebih baik lagi.

  1. Selalu Memberikan Apresiasi bagi Tim

Memberikan apresiasi kepada tim Anda sangatlah berarti meskipun hanya sekadar ucapan selamat dan terimakasih. Apresiasi dari pemimpin akan memberikan perasaan yang baik serta memberikan motivasi bagi tim untuk memberikan yang lebih baik lagi.

Beberapa tips di atas bisa Anda terapkan untuk menjadi pemimpin bisnis yang baik. Dengan demikian, Anda akan berhasil membawa tim Anda untuk mewujudkan tujuan bisnis bersama. Jasa Seo Jakarta

Siklus Pembukuan dan Akuntansi Selangkah-Demi-Selangkah

Akuntansi sering didefinisikan sebagai seni melakukan pencatatan,  pengelompokan, dan pelaporan transaksi keuangan. Rangkaian—selangkah demi selangkah—proses itulah yang disebut dengan “Siklus Akuntansi” yang sering diistilahkan dengan “pembukuan (bookkeeping)”.

Apakah pembukuan sama dengan akuntansi? Jelas berbeda. Pekerjaan pembukuan selesai sampai pada siklus saja, sementara pekerjaan akuntansi jauh lebih luas dari sekedar siklus akuntansi (pembukuan), termasuk auditing (pemeriksaan), penyusunan sistem akuntansi, akuntansi manajemen, hingga perpajakan.

Di tulisan ini saya akan berfokus pada siklus akuntansi (pembukuan) saja. Apa saja langkah-langkah yang dilalui dalam satu siklus akuntansi.

Ada 9 (sembilan) langkah yang dilalui dalam satu siklus akuntansi, yaitu:

Langkah-1. Mengumpulkan Dan Menganalisa Data Transaksi

Siklus akuntansi dimulai dari proses pengumpulan data transaksi keuangan dalam bentuk bukti transaksi yang oleh orang awam disebut ‘nota’.  Sesungguhnya bukti transaksi keuangan tidak selalu dalam bentuk nota, bisa jadi dalam bentuk lain—misalnya: akte, surat perjanjian, kwitansi, surat pengakuan utang-piutang.

Melalui bukti inilah data transaksi keuangan diidentifikasi. Setelah bukti transaksi terkumpul, selanjutnya dianalisa (bahasa awamnya dinilai)—apakah transaksi itu sah untuk diakui atau tidak, berapa yang harus diakui.

Misalnya:  Per hari ini PT. ABC membeli perlatan kantor, atas pembelian tersebut PT. ABC memperoleh bukti transaksi berupa nota. Disamping membeli peralatan kantor perusahaan juga membayar upah buruh, atas pembayaran upah tersebut, buruh PT. ABC menandatangani kwitansi, dan seterusnya.

Bukti-bukti transaksi tersebut oleh pagawai accounting dikumpulkan, lalu dinilai apakah bukti transaksi itu sah atau tidak, berapa besarnya nilai transaksi yang harus diakui.

Langkah-2. Mencatat Transaksi (Menjurnal/Posting)

Setelah bukti transaksi terkumpul dan dinilai, langkah selanjutnya adalah memasukan nilai yang terdapat pada bukti transaksi ke dalam buku catatan transaksi. Proses ini disebut dengan proses pencatatan—yang oleh orang akuntansi disebut “menjurnal” sering juga disebut “posting”.

Proses menjurnal bisa jadi dilakukan setiap kali ada transasi secara terus menerus sepanjang hari atau dimasukan sekaligus di sore hari. Catatan-catatan transaksi di langkah ini dalam akuntansi disebut dengan “Jurnal Umum (General Journal)”. Buku-buku yang menampung catatan transaksi ini sering disebut dengan buku jurnal umum (saya akan membahas jenis-jenis buku catatan ini di postingan lain secara terpisah).

Misalnya: Pukul 9 pagi ada transaksi penjualan, setelah nota dinilai (pada langkah-1) langsung dijurnal ke dalambuku penjualan. Pukul 10 pagi terjadi transaksi penjualan berikutnya, nota dinilai, setelah itu dijurnal. Bisa jadi transaksi-transaksi tersebut dikumpulkan saja dahulu, baru kemudian dijurnal menjelang penutupan jam kerja. Saya menyarankan agar setiap transaksi langsung dijurnal (jangan dikumpulkan terlebih dahulu).

Di era komputerisasi sekarang ini, proses menjurnal tidak lagi dilakukan dengan mencatat di buku. Melainkan di,masukan ke dalam sistem (software akuntansi).

Langkah-3. Memindahkan Catatan Transaksi ke Buku Besar

Pada langkah sebelumnya (jurnal umum), catatan transaksi masih dalam kondisi tercampur (berbagai macam transaksi ditampung dalam satu catatan). Di langkah ketiga ini, catatan transaksi tersebut dipindahkan ke dalam kelompok-kelompok akun (account)—sesuai dengan jenis transaksinya.

Misalnya: Jenis transaksi penjualan dipindahkan ke dalam akun penjualan, jenis transaksi pembelian bahan baku dimasukan ke dalam akun persediaan dan utang, jenis transaski berupa pembelian aset dimasukan ke dalam akun aktiva tetap, dan seterusnya.

Kelompok-kelompok akun ini disebut “Buku Besar (General Ledger)”. Di dalam akun buku besar,  satu jenis transaksi terkumpul menjadi satu kelompok, misalnya: akun buku besar penjualan terdiri dari transksi-transaksi penjualan saja, akun kas terdiri dari transaksi-transaksi yang berupa kas saja, akun aktiva tetap terdiri transaksi-transaksi aktiva tetap saja.

Di akhir proses ini, kumpulan nilai-nilai transaksi akan membentuk nilai akhir yang disebut dengan “saldo akhir (ending balance)”. Saldo akhir bisa berupa saldo debit atau saldo kredit, sesuai dengan jenis akunnya:

  • Akun-akun kelompok aktiva (kas, piutang, persediaan, aktiva tetap) bersaldo debit.
  • Akun-akun kelompok kwajiban (utang) bersaldo kredit
  • Akun kelompok ekuitas pemilik (modal, laba ditahan) bersaldo kredit
  • Akun pendapatan bersaldo kredit
  • Akun biaya bersaldo debit

Catatan:

Di era komputerisasi, kehadiran software akuntansi membuat proses pada langkah ketiga ini parktis tidak diperlukan lagi. Sotware yang dipakai oleh perusahaan secara otomatis melakukan proses pemindahan data dari jurnal umum ke buku besar, begitu langkah kedua (menjurnal umum/posting) dilakukan.

Dalam akuntansi manual proses pemindahan ke buku besar mungkin dilakukan setiap menjelang penutupan buku, sehingga saldo akhir buku besar juga baru bisa dilihat. Sedangkan dalam akuntansi terkomputerisasi (menggunakan software akuntansi), proses pemindahan terjadi setiap kali transaksi dimasukan ke dalam software akuntansi—dan dan saldo akhir langsung bisa dilihat sesaat setelah posting dilakukan.

Langkah-4. Membuat “Neraca Percobaan (Trial Balance)”

Membuat neraca percobaan biasanya dilakukan setiap menjelang penutupan buku. Apa itu neraca percobaan? Bagaimana cara membuatnya?

Di masa sekarang ini semua perusahaan sudah menggunakan sistim ‘double entry’ yang mensyaratkan kondisi yang seimbang (balance). Artinya setiap penambahan pada suatu akun selalu disertai oleh pengurangan di akun lain—demikian sebaliknya. Sebagai implementasi, setiap transaksi dicatat ke dalam 2 (atau lebih) jenis akun sekaligus.

Misalnya: PT. ABC membeli perlatan kantor senilai Rp 1 juta. Atas transaksi pembelian ini dicatat dengan sistim double-entry, sehingga jurnalnya menjadi:

[Debit]. Aktiva – Peralatan Kantor = Rp 1 juta

[Kredit]. Kas = Rp 1 juta

Artinya: atas satu transaksi penjualan tersebut, di satu sisi membuat nilai aktiva peralatan kantor bertambah sebesar 1 juta, di sisi lainnya akun kas berkurang pada nilai yang sama, sehingga terjadi kondisi seimbang (balance). Dengan demikian, setelah semua transaksi terkumpul dan terakumulasi di buku besar, penggunaan sistim double-entry membuat NILAI—atau rupiah—jenis akun bersaldo debit akan selalu sama dengan jenis akun bersaldo kredit.

Proses membuat neraca percobaan (trial balance) pada langkah ini dimaksudkan untuk melakukan percobaan—memastikan bahwa nilai jenis akun bersaldo debit sama dengan jenis akun bersaldo kredit—balance (seimbang). Atau secara keseluruhan, jumlah nilai transaksi debit sama dengan transaksi kredit. Konkretnya, saldo-saldo akhir akun bersaldo debit dijumlahkan, dan saldo-saldo akun bersaldo negatif juga dijumlahkan, lalu dibandingkan. Jika nilainya sama berarti balance (sudah benar).

Bagaimana jika tidak sama (tidak balance)? Disilidiki—dicari tahu, mengapa tidak sama. Yang jelas sudah pasti ada ketidaksesuaian pencatat (jurnal).

Langkah-5. Membuat (Jurnal) Penyesuaian

Ada berbagai kemungkinan penyebab terjadinya ketidaksesuaian—sehingga nilai akun bersaldo debit dengan akun bersaldo kredit menjadi tidak sama (tidak balance):

  • Adanya transaksi yang belum dicatat
  • Adanya transaksi yang dicatat terlalu besar atau terlalu kecil (kesalahan perhitungan)
  • Adanya transaksi yang tidak bisa diakui sekaligus akibat penerapan sistim akrual (misalnya: Atas pembelian aktiva tetap tidak bisa dibebankan sebagai biaya sekaligus, melainkan dialokasikan secara bertahap melalui penyusutan. Atas pendapatan diterima dimuka tidak bisa diakui sekaligus, melainkan di alokasikan secara bertahap. Atas beban bunga, beban sewa, pendapatan sewa, pendapatan bunga, dll).

Untuk semua penyebab itu, dibuatkan jurnal penyesuaian agar kesimbangan tercapai (saya akan membahas topik jurnal penyesuaian secara khusus di tulisan lain). Untuk pengalokasian penyusutan dan transaksi akrual, perlu dibuatkan tabel perhitungan dan jadwal.

Setelah jurnal penyesuaian dimasukan, proses dilanjutkan ke langkah berikutnya.

Langkah-6. Membuat Neraca Percobaan Setelah Penyesuaian (Adjusted Trial Balance)

Langkah keempat diulangi sekalilagi. Bila masih belum balance, maka langkah kelima juga dulangi. Kedua langkah ini akan terus diulangi hingga kondisi seimbang (balance) tercapai.

Langkah-7. Menyusun Laporan Keuangan (Financial Statements)

Setelah kesimbangan tercapai maka ‘Laporan Keuangan’ bisa disusun. Laporan keuangan adalah salah satu produk utama proses akuntansi, terdiri dari empat jenis laporan yaitu:

  • Laporan Laba Rugi (Income Statement/Profit and Loss Statement)
  • Neraca (Balance Sheet)
  • Laporan Arus Kas (Cash Flow Statement)
  • Laporan Perubahan Ekuitas/Modal (Equity Statement)

(saya akan bahas masing-masing laporan isi secara lebih terperinci melalui tulisan-tulisan lain di JAK).

Langkah-8. Melakukan Penutupan Buku (Closing The Book)

Pendapatan dan biaya terakumulasi dan dilaporkan untuk periode tertentu (umumnya bulanan, kuartalan atau tahunan. Institusi keuangan seperti bank mungkin melakukannya setiap hari). Agar kedua jenis akun ini tidak bercampur dengan periode berikutnya, maka perlu ditutup—sehingga saldonya menjadi nol—di setiap akhir periode.

Selisih antara pendapatan dengan biaya menghasilkan nilai tertentu. Nilai itulah yang disebut “Laba (Profit)” atau “Rugi (Loss)”. Laba terjadi bila selisih tersebut bernilai positif (Pendapatan lebih besar dibandingkan biaya), sedangkan rugi terjadi bila selisih bernilai negatif (biaya lebih besar dibandingkan pendapatan).

Penutupan dilakukan dengan memasukan jurnal pembalik (reversal journal)—pendapatan yang biasanya dijurnal di sisi kredit, pada proses ini ditempatkan di sisi debit; dan biaya yang biasanya ditempatkan di sisi debit, pada proses ini ditempatkan di sisi kredit—sehingga akun-akun pendapatan dan biaya akan menjadi nol.

Nilai selisih (laba/rugi) dipindahkan ke neraca, yaitu akun “Laba Peride Ini (Current Earning)” yang akan menambah akun “Laba Ditahan (Retained Earning)”.

Catatan: Khusus jurnal pembalik untuk menutup pendapatan dan biaya juga disebut “jurnal penutupan (closing jurnal)“.

Setelah langkah ke delapan ini dilakukan, maka akun-akun pendapatan dan biaya akan bernilai nol. Akun yang masih memiliki nilai saldo hanya akun-akun yang masuk dalam kelompok neraca saja (kas, piutang, persediaan, aktiva tetap, utang, dan modal atau ekuitas pemilik). Nilai saldo akun-akun keompok neraca terus diakumulasi dan dilanjutkan di periode-periode berikutnya.

Langkah-9. Memebuat Penyesuaian Kembali (Pasca Penutupan)

Langkah terakhir ini dilakukan untuk 2 tujuan, yaitu:

  • Untuk memastikan bahwa semua kelompok akun pendapatan dan biaya telah ditutup; dan
  • Untuk memastikan bahwa semua saldo akun kelompok neraca sudah dalam kondisi seimbang (balance) dan siap untuk menjadi saldo awal pembukaan buku periode berikutnya.

Itulah langkah-langkah yang dilewati dalam proses akuntansi, yang sering disebut dengan pembukuan (bookkeeping). Rangkayan langkah-langkah tersebut adalah satu siklus akuntansi (accounting cycle)—dan akan berulang di periode-peride berikutnya sepanjang perusahaan masih beroperasi.

Saya berharap, tulisan siklus pembukuan dan akuntansi ini dapat memberi gambaran yang jelas mengenai proses pembukuan dan akuntansi.

Terlihat tidak terlalu sulit ya? Pada kenyataannya, tidak semudah itu. Menjadi semakin rumit ketika menangani transaksi untuk jenis bidang usaha yang berbeda (perusahaan jasa, retail, manufaktur/industri, perbankan, real estate/developer, pertambangan, pertanian dan holticultura, francais, telekomunikasi, dan lain sebagainya)—masing-masing memiliki kekhasan dan standar perlakuan akuntansi yang berbeda-beda.

Tetapi jangan khawatir. Di tulisan-tulisan berikutnya, saya akan banyak membahas langkah-per-langkah ini secara mengkhusus—lebih rinci mendekati proses pekerjaan yang sesungguhnya. Proses pencatatan, pengelompokan dan pelaporan transaksi keuangan akun-per-akun—sesuai dengan bidang usahanya, dengan segala permasalahannya. Mau serius belajar akuntansi? Ikuti terus di JAK.

Kunci Pengelolaan Keuangan Adalah Budgeting

Saya seringkali mendapatkan email yang isinya kurang lebih seperti ini:

“Pak David, saya ingin sekali berinvestasi seperti yang Anda sebutkan dalam artikel Anda. Tetapi setiap bulan seluruh pendapatan saya habis hanya untuk berbelanja. Bagaimana caranya agar saya dapat menyisakan sebagaian uang saya untuk investasi?”

Sebenarnya ini adalah pertanyaan yang bagus sekali. Pertanyaan ini mewakili bagian inti dari ilmu pengelolaan keuangan pribadi atau keluarga.

Apabila Anda pernah membaca Finansial Revolution, mungkin Anda masih ingat ada 3 tahap yang diajarkan oleh Tung Desem Waringin untuk mencapai finansial freedom:
1. Berbelanja lebih sedikit daripada pendapatan (gaji).
2. Menginvestasikan selisihnya.
3. Menginvestasikan kembali pokok dan bunga investasi untuk pertumbuhan bunga majemuk.
Disini kita lihat bahwa ilmu dasar untuk mencapai finansial freedom adalah Anda harus dapat mengatur pengeluaran Anda supaya selalu lebih kecil dari pada pendapatan. Setelah itu barulah Anda akan mendapatkan sejumlah uang untuk diinvestasikan. Bila Anda gagal di tahap 1, Anda tidak bisa melangkah ke tahap-tahap berikutnya.

Langkah-langkahnya kurang lebih sama dengan ajaran TDW, yaitu:

  1. Memotivasi diri Anda. Dalam langkah ini Anda membuang pikiran-pikiran negatif yang menghalangi Anda dari jalan menuju kekayaan. Ingat, Anda tidak dilahirkan untuk menjadi miskin. Meminjam kata dari Andrie Wongso, “Sukses adalah Hak Saya”.
  2. Memberdayakan Dana. Langkah ini adalah jawaban dari pertanyaan diatas. Dalam langkah ini Anda diajarkan untuk mengoptimalkan penggunaan uang Anda, sehingga pendapatan Anda akan menjadi lebih besar daripada pengeluaran. Disini Anda akan mendapatkan sisa uang yang dapat diinvestasikan untuk tahap berikutnya.
  3. Melipatgandakan Kekayaan. Disini saya menuliskan berbagai macam produk investasi dengan konsep compound interest (bunga majemuk). Konsep bunga majemuk adalah sama dengan langkah kedua dan langkah ketiga pada ajaran TDW, yaitu Anda menginvestasikan sejumlah uang. Kemudian Anda menginvestasikan ulang pokok dan bunga investasi Anda sebelumnya. Sehingga bunga yang Anda dapatkan dari investasi dapat turut berbunga. Dengan menggunakan konsep ini, maka Anda dapat melipatgandakan nilai investasi Anda.

Ilmu dasar dari pengelolaan keuangan pribadi atau keluarga terletak pada langkah kedua. Memberdayakan Dana. Dalam langkah inilah Anda mendapatkan jawaban dari pertanyaan di atas.

Apakah jawabannya? Kunci jawabannya adalah “Budgeting”. Dalam proses budgeting, Anda membuat anggaran pendapatan dan belanja Anda. Biasanya secara bulanan. Kemudian, Anda secara disiplin mengatur pengeluaran Anda pada bulan tersebut agar sesuai dengan anggaran Anda.

Contohnya, misalkan saja pendapatan Anda adalah dari gaji, yaitu Rp. 4.500.000,-
PENDAPATAN:
Gaji Rp. 4.500.000,-
==================================
TOTAL PENDAPATAN Rp. 4.500.000,-

Dari total pendapatan tersebut, bagikan jatah untuk pos-pos pengeluaran Anda. Ingat, Anda harus menyisakan minimal 10% dari total pendapatan Anda untuk TABUNGAN. Tabungan inilah yang nantinya akan digunakan untuk berinvestasi.

BELANJA
Makanan/Kebutuhan Harian Rp. 1.500.000,-
Pakaian Rp. 300.000,-
Pendidikan Rp. 500.000,-
Kesehatan Rp. 300.000,-
Rekreasi Rp. 500.000,-
Transportasi Rp. 300.000,-
Asuransi Rp. 250.000,-
Tabungan Rp. 450.000,-
Pembayaran Kredit Rp. 500.000,-
Lain-lain Rp. 400.000.-
=========================================
TOTAL BELANJA Rp. 4.500.000,-

Setelah Anda mengatur anggaran Anda, maka jalanilah secara disiplin bulan tersebut agar sesuai dengan anggaran. Apabila Anda menjatahkan pos pengeluaran untuk pakaian sebesar Rp. 300.000,-, maka Anda harus konsisten dalam berbelanja. Dalam memilih pakaian, Anda tidak boleh membeli yang lebih mahal dari secara total Rp. 300.000,-. Dan apabila Anda sudah membelanjakan seluruh jatah pakaian Anda, maka Anda sudah tidak boleh membeli pakaian lagi pada bulan yang sama. Begitu juga untuk pos-pos pengeluaran lainnya.

Tips Menghadapi Interview Kerja Untuk Posisi Akuntansi-Keuangan

Menghadapi interview kerja pertamakalinya, gampang-gampang susah (atau susah-susah gampang). Terlebih-lebih untuk posisi akuntansi-keuangan. 

Gampang sebab, sesusungguhnya, tidak ada teori selain hal-hal yang sifatnya common-sense macam “lakukan eye-contact, jabat tangan interviewer dengan penuh rasa percaya diri, bal bla bla bla…..”

Susah sebab, sampai saat ini saya meyakini tidak ada satu formulapun yang bisa diberlakukan untuk semua orang dalam segala kondisi.

Adapun tips yang hendak saya share melalui tulisan ini, BUKAN ‘pil’ yang bisa mengubah seseorang yang unqualified menjadi ‘seolah-olah’ qualified. Melainkan upaya-upaya sederhana yang bisa mencegah seseorang yang qualified menjadi terlihat ‘seolah-olah’ unqualified akibat sikap atau ucapan yang tidak pas dalam interview kerja, khusus untuk posisi akuntansi-keuangan.

Sebelum masuk ke hal-hal yang lebih detail, ada satu hal yang penting untuk diketahui namun sering disepelekan oleh job-seeker, termasuk oleh mereka yang melamar posisi di bagian akuntansi-keuangan, yaitu: tujuan melamar pekerjaan.

Jangan ‘Jual Diri’ Dengan Harga Murah

Di era sosial media sekarang ini kita bisa terhubung ke banyak orang dari berbagai latarbelakang dan karakter. Dan, curhat tergolong aktivitas yang paling digemari di media sosial. Diantara banyaknya macam hal yang biasa di-curhat-kan, salah satunya adalah keluhan tentang pekerjaan.

Sesekali mengeluhkan tentang pekerjaan, saya pikir, sangat manusiawi—‘hak segala bangsa’ shit can be happened to anybody. Tetapi menjadi tak wajar bila dilakukan berkali-kali. Mesti ada yang “tak beres” dalam profesi yang dijalani. PertanyaannyaMengapa ada beberapa orang yang nampak begitu getol mengeluh tentang pekerjaan? Apa yang salah di dunia kerja mereka?

Sudah pasti ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang menjadi merasa tidak puas terhadap pekerjaan/profesi yang dijalaninya. Salah satunya, menurut saya, disebabkan oleh perilaku “jual-diri dengan harga murah”—menjual keahlian dan kompetensi dengan harga murah—yang penting laku. Berorientasi jangka pendek.

Tak ada yang salah dengan prinsip itu—terlebih-lebih untuk kita di Indonesia di mana mencari pekerjaan adalah tantangan tersendiri. Saya bisa mengerti. Tetapi perlu disadari prinsip “yang penting kerja” ini bisa menjadi jebakan, terutama bagi kita yang memiliki kompetensi khusus akuntansi dan keuangan.

Diawali dengan pemikiran “ah yang penting kerja dulu, nanti bisa cari pekerjaan yang lebih sesuai, sambil jalan,”apa yang terjadi selanjutnya?

  • Tiga bulan pertama (probation period), waktu habis untuk orientasi dan penyesuaian diri.
  • Tahun pertama, waktu habis untuk memperbaiki kualitas pekerjaan.
  • Dua tahun pun berlalu tanpa terasa.
  • Di tahun ketiga, mungkin mulai ‘ngeh’ dengan tujuan awal, yakni pekerjaan yang sedang dijalani sekarang awalnya hanya dimaksudkan sebagai ‘batu locatan.’ Namun himpitan rutinitas membuat ruang untuk pindah kerja menjadi sangat sempit.
  • Empat hingga lima tahun waktu berlalu dengan cepat.

Setelah itu, apakah anda masih yakin mampu melakukan pekerjaan akuntansi-keuangan? Bukannya mustahil, tetapi diperlukan kemauan-usaha-dan-tekad yang ekstra untuk bisa kembali ke disiplin ilmu semula (akuntansi-keuangan).

Don’t sell yourself short! Jika tidak yakin dengan posisi yang anda lamar, cari tahu hingga mendapat keyakinan yang anda butuhkan. Jika masih tidak yakin juga, sebaiknya dipertimbangkan kembali. Jika sudah yakin, silahkan. Tetapi, sudahkah anda tahu siapa yang akan anda hadapi saat interview nanti?

Siapa Yang Akan Anda Hadapi Dalam Proses Interview-Pekerjaan?

Terutama pelamar yang belum berpengalaman, cenderungan berpikir bahwa yang akan mereka temui nanti sudah pasti “orang Personalia (HRD).”

Tidak salah memang, tetapi juga tidak sepenuhnya benar.

Yang melakukan pemeriksaan awal (screening) terhadap Surat Lamaran dan Riwayat Hidup, IYA, orang HRD. Yang mengirimkan interview-invitation juga, IYA, orang HRD. Yang menyapa dan mempersilahkan anda duduk—ketika tiba di lokasi interview juga, IYA, orang HRD.

Lalu, yang melakukan interview?

Sebagian besar perusahaan, dalam proses recruitment pegawai, melakukan dua sesi interview—entah di kesempatan yang sama atau berbeda. Tetapi tidak sedikit juga yang melakukan satu kali interview saja. Tergantung skala perusahaan, bagian dan posisi/level yang akan diisi.

Disamping melakukan screening dan mengatur proses recruitment (dari pasang iklan hingga training), HRD Manager biasanya hanya melakukan interview awal—untuk memastikan apakah anda memenuhi qualifikasi dasar yang dibutuhankan atau tidak. Sedangkan yang memutuskan apakah anda diterima bekerja atau tidak, adalah manajer bagian yang akan menjadi atasan anda langsung—biasa disebut “Hiring Manager”. Dalam hal ini adalah Chief Accountant atau Financial Manager.

Sehingga, anda harus siap untuk menghadapi 2 orang interviewer, dengan karakter, mindset dan tingkat kepentingan yang berbeda. Bagaimana menghadapi mereka?

Kita obrolin satu-per-satu…

Interview dengan HRD Manager

Orang HRD, termasuk HRD Manager, di satu sisi mereka berkepentingan untuk mensukseskan hajatan recruitment secara keseluruhan, di sisi lain mereka adalah intermediary, yakniorang yang ada diantara anda (sebagai kandidat)-DAN- hiring manager (calon atasan) yang mempekerjakan anda.

Gagal memahami keunikan posisi HRD di atas (banyak terjadi), bisa membuat seorang kandidat gagal dalam interview. Konkretnya, sbb:

  • Kandidat yang tidak tahu persis posisi HRD sebagai intermediary, bisa terjebak dengan menghabiskan fokus pada sesi interview awal oleh HRD Manager. Seteleh menunggu antrean yang bisa jadi cukup panjang, level stamina-antusias-dan-fokus kandidat terkuras lalu menurun drastis ketika berhadapan dengan Hiring Manager—sesi interview yang menjadi penentu akhir.
  • Kandidat yang tahu persis posisi HRD, juga bisa terjebak. Mengetahui HRD sebagai intermediary (bukan penentu akhir) bisa jadi membuat kandidat ogah-ogahan dan cenderung menyepelekan ketika menjalani sesi interview awal dengan HRD. Mereka lupa kalau HRD adalah screener yang berfungsi untuk memilah-milah kandidat mana yang akan diajukan ke Hiring Manager dan kandidat mana yang dianggap tidak layak. Anda dipastikan gagal begitu surat lamaran anda dibuang ke tong sampah oleh HRD.

Catatan Penting: Karena alasan tertentu, orang-orang HRD menjadi mudah tersinggung dan mudah dilanda ‘api cemburu.’

Apa “alasan tertentu” itu? Tidak banyak orang yang cukup peka terhadap fenomena ini, termasuk orang dalam perusahaan sendiri. Untuk kebaikan anda, saya buka rahasia itu di sini.

Begini… rata-rata pegawai HRD menerima kompensasi (gaji, bonus, dan bentuk remunerasi lainnya) dalam rupiah yang relative lebih rendah jika dibandingkan dengan bagian lain, termasuk accounting dan finance. Dan, mereka (orang HRD) tahu persis mengenai hal itu. Bayangkan, apa yang mereka rasakan ketika berhadapan dengan calon pegawai yang baru masuk gajinya sudah lebih besar dari mereka? Cemburu (most likely)

Lalu, apa yang akan terjadi jika rasa ‘cemburu‘ itu disulut lagi dengan sikap  menyepelekan dari kandidat?

Saya yakin anda bisa mengerti maksud saya.

Saran dan masukan: Jangan beri mereka alasan-tambahan untuk tidak menyukai anda. Pandanglah posisi HRD sebagai posisi profesional yang juga berperan penting dalam nenentukan apakah anda akan masuk ke sesi interview yang menentukan atau tidak, dan hajat recruitment secara keseluruhan.

Menempatkan HRD sebagai profesional, bagaimana sebaiknya anda bersikap?

Seperti sudah saya singgung di awal tulisan, saya tidak punya ‘pil’ yang bisa mengubah kandidat tidak memenuhi kualifikasi menjadi seolah-olah memenuhi. Thus, memenuhi qualifikasi adalah syarat mutlak untuk bisa melewati sesi interview dengan HRD. Idealnya, anda memiliki kualifikasi yang mereka syaratkan.

Di luar aspek qualifikasi, yang perlu anda perhatikan adalah hal-hal sederhana, hal-hal yang secara alamiah dimiliki oleh hampir semua orang, terlebih anda yang sudah menyelesaikan pendidikan tinggi (Diploma atau Sarjana).

As a rule of thumbbuatlah tugas mereka (HRD) menjadi lebih mudah dan bisa berjalan dengan lancar, hargai territory dan otoritas mereka. Konkretnya: tunjukan daya tarik alamiah anda dengan cara menghargai mereka secara tulus. Saat mereka bicara perhatikan dan ikuti dengan seksama—jangan sekali-kali menunjukan sinyal menyepelekan.

Secara keseluruhan, strategy utama anda dalam menghadapi interview awal (dengan HRD) adalah memberi keyakinan bahwa, anda tidak akan mempermalukan jika diloloskan ke sesi interview berikutnya. Ada 3 hal yang harus anda tunjukan untuk meyakinkan HRD mengenai hal ini:

  • Anda memang memiliki qualifikasi yang cukup untuk bisa menjalankan pekerjaan yang anda lamar.
  • Anda memang sungguh-sungguh menginginkan pekerjaan yang anda lamar (ingat: anda hanya melamar untuk posisi yang memang anda inginkan—don’t sell yourself short!).
  • Untuk mensukseskan pekerjaan yang akan diberikan, anda siap bekerjasama dengan siapa saja, termasuk HRD.

Sepanjang tidak membuat mereka tersinggung dan bisa meyakinkan mereka untuk ketiga hal itu, saya yakin anda akan lolos ke sesi berikutnya, yaitu: interview dengan Hiring Manager (Chief Accountant atau Financial Manager)—orang yang paling menentukan apakah anda diterima bekerja atau tidak.

Interview Dengan Hiring Manager

Ketika sampai pada sesi ini, maka saya mengasumsikan anda memang memiliki kualifikasi untuk menjalankan pekerjaan yang anda lamar, dan memiliki attitude yang bisa diterima dalam lingkungan bisnis (perusahaan) in general.

Esensi dari interview di sesi ini adalah: memastikan bahwa kandidat yang direkomendasikan oleh HRD memang sudah sesuai.

Sehingga, sepanjang anda memiliki kualifikasi yang sesuai dan kemampuan berkomunikasi yang cukup, mestinya anda tidak mengalami kesulitan yang serius di sesi ini.

Akan tetapi, ada satu faktor-X (di luar qualified-atau-unqualified) yang sangat berperan dalam menentukan apakah hiring manager akan memilih anda atau kandidat lain. Sayangnya, “faktor-X” ini sulit diukur dan cenderung subyektif, thus nyaris tidak ada resep pasti untuk mengatasi faktor ini.

Apa faktor-X yang sulit diukur itu?

Saya menyebutnya dengan faktor “KLIK”—faktor yang mungkin bisa dideskripsikan sebagai: kecocokan ‘chemistry’ antara hiring manager dengan anda sebagai kandidat bawahannya. Yang namanya ‘chemistry’ sudah pasti unik, kompleks dan abstrak.

Menurut saya pribadi (baik sebagai orang yang pernah menjadi kandidat pegawai maupun sebagai orang yang pernah menjadi hiring manager), faktor “klik” ini adalah penentu akhir setelah hal-hal teknis sehubungan dengan capability dan kualifikasi.

Adakah cara agar saya bisa klik dengan hiring manager?” mungkin anda berpikir demikian.

Pertanyaan ini mirip dengan “adakah cara agar orang yang paling saya inginkan jatuh cinta kepada saya?

Jawaban: TIDAK ADA.

Tetapi bisa saya gambarkan, proses ini mirip seperti sepasang pria dan wanita yang sedang menjalani “quick-date” karena kebelet harus memiliki pasangan hidup secepatnya (mungkin tuntutan usia?). Tak banyak yang bisa diperbuat; anda dan miring manager hanya bisa menjalaninya, sambil berusaha untuk saling mengenal dalam waktu yang singkat.

Next, saya ingin mengajak anda untuk ikut menyimak, apa yang biasanya dilakukan oleh seorang Hiring Manager untuk bisa memperoleh keyakinan apakah dirinya “KLIK” dengan seorang kandidat atau tidak. Tentu ini adalah hindsight—informasi yang tak mudah ditemukan dimana saja.

Mempercepat Kemunculan Faktor KLIK dalam Interview (Dengan Hiring Manager)

Pada dasarnya, semua interview bersifat konversasional—berjalanan melalui proses percakapan. Mulai dari percakapan ringan dan umum hingga wilayah yang spesifik (hal-hal terkait pekerjaan yang anda lamar misalnya), dari soft-skills sampai ke hard-skills.

Setiap Hiring Manager pastinya memiliki cara dan style yang berbeda dalam menjalankan proses interview dengan seorang kandidat. Saya pribadi juga punya cara tersendiri. Ada beberapa hal yang saya uji (dan periksa) untuk memastikan apakah seorang kandidat cocok untuk menjadi bawahan saya di Accounting dan Finance atau tidak, diantaranya:

  • Apakah kandidat memiliki daya tahan stress yang cukup atau tidak?
  • Apakah kandidat menganggap pekerjaan yang dilamarnya penting atau tidak?
  • Apakah kandidat memiliki keberanian yang cukup untuk mengemukakan gagasan sekaligus menyampaikan keinginannya atau tidak?
  • Apakah kandidat memiliki intlegensia yang cukup atau tidak?
  • Apakah kandidat mudah atau tidak mudah terintimidasi?
  • Apakah kandidat memiliki kemauan belajar yang cukup atau tidak?
  • Apakah kandidat berwatak proactive atau passive?
  • Apakah kandidat assertive atau unassertive?
  • Apakah kandidat tidak mudah bosan (dan tidak membosankan) atau sebaliknya?

Ada 2 hal yang biasanya saya lakukan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas:

1. Dengan Mendiamkan – Saya hanya mempersilahkan kandidat duduk, selebihnya saya diamkan (sambil membereskan pekerjaan saya sebanyak mungkin). Sedikit mengenai psikologi prilaku: “dua orang asing berada dalam satu ruangan dan tanpa bicara” tergolong situasi yang bisa memicu simpul stress. Orang yang tidak tahan stress akan menunjukan gejala-gejala gelisah dalam waktu yang relative singkat. Dari pengamatan saya selama ini, hasilnya menunjukan:

  • Kandidat untuk Entry-level biasanya hanya bisa bertahan selama 3 menit. Lewat dari itu mereka sudah mulai gelisah dengan berbagai perilaku—mulai dari menggerak-gerakan anggota tubuh sampai yang paling parah ambil sapu tangan dan menyeka keringat di dalam ruangan ber-AC.
  • Kandidat untuk management-level (chief accountant, financial manager, credit manager, asset & capital manager, warehouse manager, dll), hanya bertahan antara 7 hingga 10 menit. Lewat dari itu, mereka sudah mulai nampak gelisah—mulai dari menggoyang-goyangkan kaki sampai dengan mengeluarkan ponsel.

Dari assessment sederhana ini, minimal saya tahu sampai dimana daya tahan stress seorang kandidat.

Hiring manager lain mungkin memiliki cara lain dalam melakukan assessment yang sama. Beberapa teknik lainnya yang juga sering saya gunakan, antara lain:

  • Memotong atau menyela secara terus-menerus, setiap kali kandidat mulai semangat berbicara (menjelaskan sesuatu); atau
  • Mengacuhkan, setiap kali kandidat nampak bersusah-payah menjelaskan sesuatu yg sifatnya teknis.

Teknik di atas akan membuat kandidat tertentu menjadi frustasi, putus-asa dan stress. Bukan bermaksud bullying, saya lakukan itu semata-mata untuk mengukur daya tahan stress kandidat. Segelintir manajer mungkin punya kegemaran ‘iseng’ mengerjai kandidat (dan pegawai baru). Namun sebagian besar lainnya memiliki banyak tugas mendesak yang harus diselesaikan, sehingga tidak punya cukup waktu untuk melakukan hal-hal yang tak perlu.

Kemampuan untuk bisa ‘tetap-tenang-meski-di-bawah-tekanan’ adalah hal penting yang harus di miliki oleh setiap pegawai yang bekerja di bagian akuntansi dan keuangan. Kemampuan teknis akuntansi, keuangan dan pajak memang syarat mutlak, tetapi entah mengapa saya tak pernah meragukan kemampuan anak-anak lulusan Akuntansi terkait dengan kompetensi.

Jika harus memilih antara:

(1) pegawai cakap secara teknis tapi tidak tahan stress; atau

(2) pegawai berkemampuan biasa tetapi tahan stress;

saya cenderung memilih yang kedua. Mengapa? Karena pegawai yang mudah dilanda stress takkan bisa tahan lama bekerja di accounting dan finance. Bagi saya, gonta-ganti staff jauh lebih ‘mahal’ dibandingkan biaya training dan workshop.

Sebagai standar dasar, untuk staf dan manager di accounting dan keuangan, saya butuh orang-orang yang memiliki mental baja; tahan stress, tidak mudah terintimidasi dan bisa tetap tenang saat berada di bawah tekanan. Saya rasa hampir semua manager dan eksekutif menggunakan mindset serupa. Jadi, jika anda melamar untuk bagian accounting atau finance, bersiplah untuk stress-free test semacam itu.

2. Dengan Bertanya – Entah yang lain, saya pribadi tidak suka interview yang serem-serem. Setelah mendiamkan beberapa menit, selanjutnya saya hanya menanyakan hal yang mungkin terdengar sangat sederhana. Misalnua:

Apakah sudah interview dengan HRD?

Jawabannya pasti sudah.

Berikutnya, pertanyaan terakhir:

“Ada yang ingin ditanyakan?

Jika jawaban kandidat adalah “Tidak ada”, maka selesai sudah wawancaranya—yang artinya: GAGAL!

Mengapa?

Jawaban “tidak” dalam hal ini saya artikan, sbb:

  • Pekerjaan ini tidak terlalu penting buat saya (hell, I have tens of candidate after you); atau
  • Saya tidak berani mengemukakan gagasan atau keinginan (you, lamme); atau
  • Saya bodoh (back to school, please); atau
  • Saya tidak sanggup menghadapi intimidasi (saya butuh samurai, bukan ayam sayur); atau
  • Saya malas berusaha, malas bekerja dan malas belajar (tempat ini tidak cocok untuk keledai); atau
  • Saya pasif dan lemah (ssszzzhhh..); atau
  • Saya cepat bosan sekaligus membosankan (please just don’t bother me further. thanks!)

Dan, kandidat yang biasanya KLIK dengan saya adalah mereka yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  • Apakah qualifikasi saya memenuhi kriteria yang anda harapkan?
  • Jika anda memutuskan untuk tidak meng-hire saya, apa kira-kira alasannya?
  • Adakah skill yang masih harus saya improve untuk bisa menjalankan pekerjaan saya nanti?
  • Jika saya diterima, bagaimana anda akan menilai kinerja saya ke depannya?
  • Dalam satu tahun ke depan, apa yang anda harapkan bisa saya lakukan untuk membuat anda tidak sia-sia menerima saya bekerja di sini?
  • Jika saya diterima bekerja di sini, sebagai bawahan anda, apa 3 perioritas kerja paling utama yang harus saya selesaikan dalam sehari/seminggu/sebulan/setahun, agar anda merasa terbantu?
  • Saya sangat menginginkan pekerjaan ini, apakah anda berkenan memberi saya kesempatan?

Dari pertanyaan-pertanyaan kandidat yang seperti itulah biasanya percakapan selanjutnya mengalir. Jika di tengah-tengah proses obrolan saya merasa ‘jatuh-cinta’ (KLIK), biasanya saya menawarkan minum “dingin atau hangat?” untuk dinikmati bersama sampai sesi interview berakhir (antara 15 hingga 30 menit). Jika kandidat manajer biasanya saya ajak short-tour untuk mengunjungi fasilitas fisik dimana dia akan ditempatkan.

Tentu, contoh di atas hanya segelintir diantara banyak pertanyaan yang bisa anda ajukan—jika hiring manager memberi anda kesempatan bertanya. Pada prakteknya, anda bisa mengajukan pertanyaan apa saja, sepanjang pertanyaan itu masih ada dalam kisaran 5 wilayah berikut ini:

  • Interest – You have taken the trouble to investigate the job.
  • Intelligence -You really understand the requirements of the job.
  • Confidence – You have everything it takes to do the job.
  • Personal appeal – You are the type of person who will fit in well.
  • Assertiveness – You ask for the job.

Yakinlah Anda Akan Diterima dan Berhasil

Mengapa komposisi orang gagal dengan orang sukses membentuk paramida?

Sebab, jumlah orang yang memiliki self-confident (dalam mewujudkan cita-cita) jauh lebih sedikit ketimbang yang sebaliknya.

Pernah mendengar ungkapan: “Faith can move mountains”?

Jika pernah, maka saya rasa anda juga pernah mendengar orang yang mengatakan “halah… lebay! Mana mungkin anda bisa menggeser gunung.”

Mereka yang berpendapat demikian tipikal orang yang tak mampu membedakan FAITH-vs-WISHFUL thinking, orang-orang yang lebih banyak mengeluh ketimbang berusahaYa jelaslah, berharap saja memang tidak akan mengubah sesuatu.

Bisa diterima bekerja di perusahaan yang anda inginkan memang tidak akan pernah terwujud hanya dengan berharap. Anda perlu memiliki tekad “aku-yakin-bisa” terlebih dahulu. Selanjutnya, tekad “aku-yakin-bisa” itu akan merangsang anda untuk mencari tahu “bagaimana-caranya-supaya-bisa (sungguhan)”, sekaligus memberi asupan semangat yang cukup  untuk mengikuti rangsangan-rangsangan berikutnya, yang pada akhirnya akan mengarahkan anda pada keberhasilan.

Yakinlah anda pasti diterima dan berhasil.

7 Peluang Karir dan Pekerjaan di Bidang Perpajakan

Pajak atau Perpajakan, tergolong yang paling diminati oleh mahasiswa jurusan akuntansi, setelah audit. Saking berminatnya, bahkan sampai ada yang dengan tegas menyatakan tekadnya untuk menjadi seorang ‘tax specialist’ di masa depan.

Sebuah semangat anak muda yang bagus dan perlu dicontoh agar tidak setengah-setengah ketika menginginkan sesuatu, termasuk jika ingin bekerja di bidang perpajakan. Sebab, kata Michelangelo:

Namun, pertanyaan yang kerap muncul kemudian: bagaimana karir saya di masa depan jika saya mendalami bidang perpajakan?

Jangan khawatir. Mendalami bidang perpajakan tergolong pilihan yang sangat masuk akal. Mengapa?

Menurut data yang dirilis oleh DJP:

  • Jumlah Pegawai Pajak per 2015 hanya 32,000 orang dari 28,000,000 Wajib Pajak (orang dan badan usaha);
  • Jumlah Account Representative (AR) dari DJP di seluruh Indonesia per 2015 hanya 6000 orang, artinya 1 orang AR melayani sekitar 4500 Wajib Pajak.
  • Jumlah Konsultan Pajak Terdaftar di seluruh Indonesia per 2015 hanya 2000-an (perorangan dan badan usaha). Katakanlah per kantor konsultan rata-rata memiliki 10 orang pegawai, artinya ada sekitar 20,000 orang pegawai kantor konsultan pajak di seluruh Indonesia hingga saat ini.

Jadi, jumlah mereka yang menggeluti bidang perpajakan saat ini baru mencapai 42,000 orang (=32000 + 20000) dari 28,000,000 wajib pajak.

Artinya apa? Peluang berkarir di bidang perpajakan masih sangat luas.

Lebih jauh lagi, melalui tulisan ini, saya akan overview setidaknya 7 (tujuh) peluang pekerjaan bagi mereka yang tertarik untuk mendalami bidang perpajakan—tentunya dilengkapi dengan:

  • Potensi penghasilan untuk masing-masing pekerjaan;
  • Syarat formal dan informal yang dibutuhkan;
  • Kans masuk/tingkat persaingan; dan
  • Rute karir.

Bukan sesuatu yang sifatnya scientific. Namun, mudah-mudahan, bisa memberi gambaran yang lebih jelas mengenai pilihan karir di bidang perpajakan.

Dan, saya pikir, tidak hanya untuk anda (mahasiswa yang sebentar lagi memasuki dunia kerja) saja, melainkan untuk banyak pihak—termasuk rekan yang sudah bekerja (namun sedang berpikir tentang kemungkinan karir lain di luar yang dijalani saat ini), bapak/ibu dosen yang sedang mengarahkan mahasiswa, dan para orang tua yang sedang mempersiapkan masa depan anak-anaknya.

Untuk mempersingkat waktu, kita langsung ke “tujuh peluang pekerjaan dan pekerjaan di bidang perpajakan.”

 

1. Menjadi Pegawai Pajak di Lingkungan Ditjen Pajak

Ada yang berminat untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Ditjen Pajak (DJP)?

Saya yakin sebagian besar berminat (atau pernah berminat) untuk menjadi pegawai pajak. Sebab, disamping stabil dan pertumbuhan karir yang sudah sangat jelas, gajinya juga lumayan menggiurkan. Saya rasa tidak ada orang tua yang menolak calon mantu seorang pegawai pajak.

Berapa gaji pegawai di lingkungan DJP?

Yang pasti tergantung golongan (pendidikan dan pengalaman) DAN jabatan. Golongan IV A pastinya beda dengan Golongan II C. Mereka yang menjabat juga beda dengan pegawai biasa yang tidak menjabat. Apalagi yang sudah eselon, tergolong tinggi, terlebih pasca dikeluarkannya Perpres No 37 Tahun 2015.

Meskipun tahu, saya tidak mau menyebut angka di sini, rasanya kurang etis sebab, bagaimanapun juga, PNS adalah abdi Negara—nilai pengabdian mereka tidak bisa diukur dari uang semata. Dan jika anda ingin berkarir di lingkungan DJP, pengabdian dan loyalitas anda kepada Negara mestinya menjadi hal yang paling utama. Jika tidak, sebaiknya jangan.

Peluang Jadi Pegawai Pajak?

Bagi rekan lulusan Sekolah Tinggi Akuntan Negara (STAN), menjadi pagawai negeri sipil (PNS) dan berkarir di lingkungan Ditjen Pajak mungkin pilihan yang paling masuk akal. Sebab, memang paling berpeluang, mengingat keberadaan STAN sendiri tak bisa lepas dari lingkungan Kementerian Keuangan, termasuk Ditjen Pajak.

Dengan kata lain, STAN ada memang dimaksudkan sebagai sekolah tinggi khusus yang diharapkan akan menjadi pemasok utama tenaga-tenaga handal di bidang administrasi Negara, termasuk perpajakan. Dan, saya yakin, mereka yang memilih masuk STAN sejak diawal sudah tahu persis mengenai peluang ini.

Bagaimana dengan anda yang bukan lulusan STAN?

Ada kesalahan persepsi yang lumrah berkembang di masyarakat, yakni anggapan bahwa hanya lulusan STAN saja lah yang berpeluang masuk lingkungan Ditjen Pajak (baca: Kantor Pajak).

Yang benar: siapa saja berpeluang untuk menjadi pegawai pajak di lingkungan DJP sepanjang memenuhi persayaratan yang diminta dan lolos seleksi.

Yang tak pernah anda duga, mungkin, banyak pegawai pajak (dan menduduki posisi lumayan strategis) justru lulusan dari Fakultas Hukum. Sebab, katanya, bagaiamanapun juga “Pajak” adalah “produk hukum”—thus dalam pelaksanaannya berpotensi menimbulkan kasus hukum.

Artinya apa? Persaingan untuk masuk sebagai pegawai pajak tergolong tinggi, sangat kompetitif—disamping harus bersaing dengan anak-anak STAN juga bersaing dengan anak akuntansi lainnya bahkan anak fakultas hukum.

Syaratnya?

Pendidikan minimal D3 atau S1, diutamakan jurusan Akuntansi dan Hukum. Syarat lainnya sama saja dengan PNS lainnya, termasuk ikut test seleksi.

Yang pasti, menjadi pegawai pajak dan berkarir di lingkungan DJP bukan satu-satunya pilihan. Masih ada setidaknya 6 pilihan lainnya. Lanjut…

 

2. Menjadi Tax Planner di Kantor Akuntan Publik (KAP)

Bukankah KAP itu tempat berkarirnya para akuntan, khususnya auditor?

Wrong! Auditing (atau atestasi atau assurance) hanya salah satu jasa yang ditawarkan. Jasa lainnya yang juga lumrah disediakan oleh KAP adalah “Trusted Business Advisory” (TBA). Jasa andalan di divisi TBA adalah “Tax Planning” yang membantu klien untuk melakukan perencanaan pajak.

Gaji seorang Tax Planner di KAP?

Berkisar antara Rp 2,000,000 hingga Rp 15,000,000 per bulan.

Tak jauh berbeda dengan PNS di lingkungan DJP yang banyak ditentukan oleh Golongan dan Jabatan. Disamping ukuran KAP-nya, gaji seorang tax planner di lingkungan ini banyak ditentukan oleh jenjang karir (jabatan). Sementara jenjang karir ditentukan oleh kemampuan dan prestasi. Bahwa kemampuan dan prestasi banyak dipengaruhi oleh “jam terbang” (pengalaman kerja), YES, seperti tipikal karir di sektor swasta lainnya. Namun tidak berarti orang yang berpengalaman kerja 10 tahun pasti gajinya lebih tinggi dibandingkan mereka yang bekerja selama 5 tahun.

Jenjang karir Perpajakan di KAP: dari Junior Tax Planner, Senior, Supervisor, Manager, hingga Partner—sama seperti auditor yang juga berangkat dari junior hingga menjadi Partner.

Untuk lebih masuk akalnya, lupakan posisi Partner (menjadi Partner hanya jika anda sangat berprestasi atau ikut “andil” dalam merintis dan membesarkan KAP sejak masih kecil). Dengan menjadi Manager saja di sini sebenarnya sudah sangat bagus, anda sudah bisa membeli mobil pribadi kelas menengah (Rp 300 jutaan) dan rumah layak bernilai 600 juta hingga 1,5 Milyar—tergantung sedikit/banyaknya klien yang anda tangani, dan sedikit/banyaknya klien tergantung kecil/besarnya ukuran KAP.

Anda yang ambisius tentunya membidik KAP besar (Big Five mungkin?)

Syarat menjadi Tax Planner di KAP?

Idealnya, D3 Perpajakan atau S1 Jurusan Akuntansi yang menguasai Perpajakan. Memegang sertifikat Brevet A, B, dan C, akan menjadi nilai tambah, mesikpun bukan faktor penentu utama.

Persaingan?

Khusus di KAP-KAP besar, dari Big Four hingga Ten, disamping bersaing dengan jebolan perguruan tinggi terkenal di Indonesia seperti UI dan UGM, kemungkinan anda juga harus bersaing dengan lulusan STAN yang entah mengapa lebih memilih KAP ketimbang lingkungan DJP.

Saran saya: mulai dengan KAP yang masuk kelompok 20 terbesar. Setelah berkarir 5 hingga 7 tahun di sini baru membidik Big Five untuk target selanjutnya.

Susah masuk KAP?

Masih ada pilihan lainnya. Lanjut ke pilihan ketiga.

 

3. Menjadi Tax Adviser di Kantor Konsultan Pajak

Pilihan menarik berikutnya adalah menjadi pegawai di Kantor Konsultan Pajak (KKP), yang jumlah (thus peluangnya) tak kalah banyak dibandingkan KAP.

Apa bedanya antara menjadi Tax Planner di KAP dengan menjadi Tax Adviser di KKP?” mungkin ada yang berpikir demikian.

Tax Planner di KAP memang spesialis membuat perencanaan pajak saja, sasaran kliennya adalah perusahaan-perusahaan besar—terutama yang pernah menjadi klien jasa atestasinya.

Sedangkan menjadi Tax Adviser di KKP, disamping memberikan konsultasi untuk tax planning mungkin anda juga membantu klien dalam menghitung, membuat laporan, dan melaksanakan administrasi perpajakan lainnya, termasuk potong dan pungut (potput)—khususnya untuk perusahaan-perusahaan berskala menengah.

KKP yang cukup besar juga melayani jasa litigasi, yakni menjadi pendamping klien yang sedang diperiksa (diaudit) oleh Kantor Pajak, meminta pengurangan/potongan pajak terutang, mengajukan keberatan hingga menjalani pengadilan pajak.

Berapa gaji pegawai Kantor Konsultan Pajak?

Tak jauh beda dengan Tax Planner di KAP, berkisar dari Rp 2,000,000 hingga Rp 15,000,000 per bulan.

Disamping ukuran Kantor Konsultan Pajaknya, besaran gaji terutama ditentukan oleh posisi (junior, senior, supervisor, manager atau partner).

Bedanya dengan KAP, sistim jenjang karir di Kantor Konsultan Pajak—setidanya yang saya ketahui—tidak sejelas di KAP besar; tidak ada program internship dan mentorship yang sifatnya formal.

Syarat jadi pegawai Kantor Konsultan Pajak?

Yang saya ketahui tidak ada persyaratan resmi selain skill dan kemampuan. Tetapi idealnya, terutama jika anda melamar di Kantor Konsultan besar, D3 Perpajakan atau S1 jurusan Akuntansi yang menguasai perpajakan. Memegang sertifikat Brevet Pajak A, B dan C, akan menjadi nilai tambah, meskipun bukan faktor penentu utama.

Persaingan?

Lebih longgar dibandingkan di KAP. Sistim seleksi recruitmennya tidak “seseram” KAP. Paradoks nya, mungkin, suasana yang lebih longgar ini justru menyiratkan ‘aturan-main’ yang cenderung tidak jelas. Karena tidak seketat KAP, maka bisa anda tebak jumlah peminat wilayah ini cukup besar dan bisa dari berbagai jenjang pendidikan—termasuk SLTA (terutama SMK jurusan akuntansi).

 

4. Menjadi Taxman di Perusahaan

Mungkin ada yang mengira tempat berkarir di bidang perpajakan, diluar lingkungan DJP, hanya di Kantor Konsultan Pajak atau Kantor Akuntan Publik. Wrong!

Perusahaan menengah dan besar rata-rata memiliki pegawai dalam yang—disebut “Taxman”—khusus menangani perpajakan. Tax man lah yang mengeksekusi “tax planning” yang dirancang oleh para tax planner KAP, termasuk menghitung, membayar hingga melapor ke kantor pajak.

Mungkin ada perusahaan yang menyerahkan semua urusan perpajakan pada konsultan pajak, namun jumlahnya sedikit. Kebanyakan yang menggunakan jasa konsultan pajak untuk jasa-jasa terbatas. Tujuannya jelas, untuk menghemat biaya.

Lalu, berapa gaji seorang Tax Man di perusahaan?

Angka gaji yang diterima oleh seorang Taxman di perusahaan sedikit lebih besar dibandingkan staf accounting pada umumnya. Namun masih lebih kecil jika dibandingkan dengan seorang Chief Accountant. Sebab, bagaimanapun juga, Taxman bertanggungjawab kepada Chief Accountant. Jika dicari padanannya mungkin gajinya sama dengan seorang Cost Accountant (atau Cost Controller) yang juga bekerja di bawah Chief Accountant.

Kisarannya antara Rp 2,000,000 hingga Rp 6,000,000, tergantung ukuran perusahaan dan masa kerjanya si Taxman.

Syarat menjadi seorang Taxman di sebuah perusahaan?

Sama seperti syarat staf accounting pada umumnya. Tergantung besarnya skala perusahaan yang dimasuki, namun idealnya D3 atau S1 jurusan Akuntansi atau Manajemen yang menguasai perpajakan. Diutamakan yang memegang Brevet Pajak A dan B. Jika memiliki kemampuan tax planning, tentu akan menjadi nilai tambah tersendiri (perusahaan bisa menghemat budget yang seharusnya dialokasikan untuk membayar KAP atau Kantor Konsultan Pajak).

Bagaimana kans dan persaingan untuk menjadi Taxman?

Jumlah yang dibutuhkan tidak banyak, hanya 1 (atau maksimal 2) orang untuk setiap perusahaan. Lagipula, tidak semua perusahaan besar dan menengah menggunakan Taxman, ada juga yang menyerahkan segala urusan perpajakan kepada pihak eksternal. Bagusnya, jumlah spesialis pajak tidak sebanyak jumlah akuntan, dan sebagian besar spesialis membidik KAP atau Kantor Konsultan Pajak.

 

5. Menjadi Pegawai Akuntansi Yang Menguasai Perpajakan

Perusahaan-perusahaan besar, disamping menggunakan jasa KAP atau Kantor Konsultan Pajak juga memiliki Taxman yang mengurusi administrasi perpajakan di dalam perusahaan.

Bagaimana dengan perusahaan-perusahaan kecil dan menengah?

Mereka tak punya cukup uang untuk membayar sesorang yang hanya mengurus administrasi perpajakan. Sebagai gantinya, mereka mencari pegawai accounting yang disamping mampu menjurnal dan membuat laporan keuangan, juga mampu mengurusi administrasi perpajakan. Bagaimanapun juga, obyek pajak mereka sedikit, dengan nilai yang tak terlalu besar pula.

Artinya apa?

Jika anda menguasai skill akuntansi sekaligus skill perpajakan dan melamar pada perusahaan kecil hingga menengah, maka otomatis anda mengalahkan kandidat lain yang hanya mengandalkan skill akuntansi semata. Tetapi, ini bukan untuk mereka yang spesialis perpajakan (D3 Perpajakan misalnya), sebab perusahaan pada skala ini lebih mengutamakan anak accounting yang menguasai perpajakan.

Berapa besar gajinya?

Logikanya, lebih besar dibandingkan dengan staf accounting yang tidak sekaligus menangani perpajakan, sebab tanggung jawab pekerjaannya jelas lebih berat, tingkat kepusingannya juga lebih tinggi. Jika staf accounting biasa gajinya berkisar antara Rp 2,000,000 hingga Rp 5,000,000. Maka orang accounting yang sekaligus mengurus perpajakan minimal antara Rp 3,000,000 hingga Rp 7,000,000.

Syaratnya?

Tergantung skala perusahaannya. Seminim-minimnya SMK Akuntansi yang menguasai perpajakan. Pada skala menengah idealnya D3 Jurusan Akuntansi atau S1 Jurusan Akuntansi yang menguasai perpajakan (tidak harus memegang Brevet Pajak).

Untuk pemula, peluang di bidang perpajakan: PNS di DJP, Tax Planner KAP, Tax Adviser KKP, Taxman Perusahaan, Staf Accounting.

Sedangkan yang selanjutnya khusus jenjang karir untuk para senior yang sudah berpengalaman. Namun, bagaimanapun juga, ini adalah PUNCAK karir di bidang perpajakan—thus siapapun perlu tahu, termasuk pemula; setidaknya mungkin menjadi inspirasi.

 

6. Menjadi Konsultan Pajak Mandiri

Saya katakan puncak karir seorang ‘tax specialist’ sebab, bagaimanapun juga, mereka yang sudah sangat berpengalaman (sudah kenyang mereguk asam garamnya bekerja di lingkungan korporasi) biasanya ogah bekerja untuk pihak lain.

Seminim-minimnya, mereka akan memilih untuk menjadi seorang konsultan pajak mandiri (perorangan).

Apa kelebihan menjadi seorang konsultan pajak mandiri dibandingkan menjadi seorang tax manager (atau account manager) di dalam KAP atau KKP milik orang lain?

Uang yang dihasilkan bisa jadi lebih kecil dibandingkan saat masih bekerja untuk perusahaan milik orang lain, akan tetapi seorang konsultan mandiri menikmati kebebasan, setidaknya dalam pengambilan keputusan. Bukan berarti pekerjaannya menjadi lebih ringan atau lebih santai, melainkan besar kecil penghasilannya benar-benar ia tentukan sendiri (setelah ketentuan Tuhan tentunya.)

Artinya, jika ingin berpenghasilan besar, maka harus rajin mencari klien. Jika ingin hidup lebih santai (untuk menikmati waktu bersama orang-orang tercinta), bisa membatasi jumlah klien.

Berapa rupiah, persisnya, penghasilan seorang konsultan pajak mandiri?

Sekalilagi tergantung jenis dan jumlah klien yang ia layani—thus sangat relative. Tetapi mengantongi antara Rp 10,000,000 hingga Rp 30,000,000 sebulan, saya rasa bukan sesuatu yang sulit bagi mereka.

Apa syaratnya menjadi orang konsultan pajak?

Memperoleh ijin untuk menjalankan praktek sebagai seorang konsultan pajak, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak (Pasal 1 dan Pasal 3 PMK-111/PMK.03/2014).

Untuk mendaftarkan diri dan memperoleh ijin tersebut, anda harus memiliki sertifikat tanda lulus “Ujian Sertifikasi Konsultan Pajak” (USKP) dan menjadi anggota “Asosiasi Konsultan Pajak Indonesia” (AKPI).

Persayaratan administrative lainnya selengkapnya bisa anda baca pada Peraturan Menteri Keuangan yakni PMK-111/PMK.03/2014.

 

7. Mendirikan Kantor Konsultan Pajak

Sama seperti seorang konsultan pajak mandiri. Bedanya, disamping mempekerjakan dirinya sendiri juga mempekerjakan orang lain (staff dan mungkin juga manager) thus mendirikan kantor konsultan pajak.

Pendapatan yang diperoleh tentu menjadi lebih besar. Seorang partner Kantor Konsultan Pajak, sama seperti para partner Kantor Akuntan Publik, bukan sekedar seorang spesialis. Melainkan juga seorang pengusaha—tak ada bedanya dengan para pengusaha lainnya—yakni, memperbesar pendapatan dengan cara mempekerjakan orang lain.

Hanya saja, jasa yang dijual sifatnya sangat khusus, yakni jasa di bidang perpajakan. Mirip seperti seorang Notaris yang menjalankan Kantor Notaris. Atau seorang advokat yang menjalankan Kantor Law Firm. Seorang Apoteker yang menjalankan Apotek. Atau seorang dokter yang mengoperasikan sebuah rumah sakit.

Artinya apa?

Ini karir seorang spesialis yang kemudian bergeser ke wilayah pebisnis. Yang dibutuhkan, disamping kemampuannya dalam menguasai bidang yang dijalankan, juga entrepreneurship.

Pertanyaan yang lumrah ditanyakan terkait nomor 6 dan 7 di atasKapan waktu yang paling tepat bagi seseorang untuk memilih jadi konsultan mandiri atau mendirikan kantor sendiri?

Pertama, kesiapan finansial. Untuk menjadi seorang konsultan pajak mandiri misalnya, setidak-tidaknya, anda butuh dana yang cukup untuk menutup biaya hidup anda sendiri dan keluarga sebelum memperoleh klien dan penghasilan. Alternatif yang banyak ditempuh: anda bisa mulai menjalankan praktik mandiri, sambil tetap bekerja paruh waktu di sebuah kantor konsultan atau KAP milik orang lain—istilahnya “moonlighting”—kalau bisa sampaikan dan mintalah ijin secara terbuka (tidak dengan mencuri-curi waktu). Jika anda bermaksud mendirikan Kantor Konsultan Sendiri maka anda perlu kesiapan finansial yang lebih serius lagi (anda butuh modal usaha.)

Kedua, kesiapan mental. Terutama yang selama ini bekerja untuk pihak lain, anda perlu memiliki kesiapan mental. Siap melalui pasang-surutnya kehidupan seorang pengusaha. Siap bergerak tanpa dikomando oleh orang lain. Siap bertanggungjawab tanpa dituntut oleh selembar kertas yang disebut “Job Description” (atau kontrak). Dan seterusnya.

Jadi, anda bisa menjadi seorang konsultan mandiri atau mendirikan kantor konsultan dan mempekerjakan orang lain, KAPANPUN, asalakan anda memiliki kesiapan yang cukup untuk kedua hal di atas. Skill perpajakan, tentunya, menjadi hal yang utama dalam hal ini.

Itulah 7 peluang kerja dan rute karir bagi anda yang ingin mendalami bidang perpajakan. Sangat menjanjikan bukan?

Satu hal penting yang ingin saya tekankan, sebelum mengakhiri tulisan ini:

Why?

Sebab tidak ada badan usaha (profit dan non-profit) yang terbebas dari kewajiban perpajakan. Ketika anda memasuki jenjang eksekutif—terutama di wilayah keuangan seperti Treasurer, Financial Controller,CFO—hingga CEO, mau tidak mau anda akan dipusingkan oleh urusan perpajakan korporat.

Dan, anda pribadi sebagai manager, terlebih yang sudah berada di posisi eksekutif, juga mempunya kewajiban pajak yang porsi nilainya cukup besar mengingat gaji anda juga tidak bisa dibilang kecil.

Bahwa anda bisa menyerahkan urusan pajak kepada ahlinya—entah tax planner KAP, tax advisor KKP atau Konsultan Pajak Mandiri—memang, BETUL. Tetapi, adalah tidak lucu jika seorang manajer hanya bisa mengangguk-angguk; minimal anda perlu tahu apa yang mereka lakukan atas laporan pajak anda. Iya kan?

Oleh sebab itu, bagaimanapun juga, anda tak rugi belajar perpajakan. Selamat berakhir pekan. Semoga sukses selalu!